Ada apa dengan pesantren Al-Mumtaz?


Di sebuah desa yang terpencil dan jarang terjamah teknologi, berdirilah sebuah pondok pesantren bernama Al-Mumtaz. Pondok ini tidak terkenal, bahkan hampir tak pernah terdengar kabarnya. Namun, orang-orang di sekitar tahu satu hal: tak ada santri yang pernah keluar dari sana setelah mondok.


Rafi, seorang pemuda kota yang gelisah akan arah hidupnya, memutuskan untuk mendalami agama di pesantren terpencil, berharap bisa menemukan kedamaian batin. Ia menemukan info tentang Al-Mumtaz dari sebuah selebaran misterius, tanpa alamat yang jelas. Tapi anehnya, tak lama setelah ia berniat pergi, ada seorang lelaki tua mengetuk pintu rumahnya, menawarkan tumpangan menuju pesantren itu.


Saat tiba, suasana pondok itu terasa dingin meski matahari sedang terik. Para santri di sana tidak berbicara banyak, mata mereka kosong, dan semua perintah dari Kyai Usman dipatuhi tanpa tanya. Kyai itu karismatik, namun ada sesuatu yang gelap dalam tatapannya seolah menyimpan rahasia lama.


Pada malam hari, Rafi mulai mendengar suara-suara aneh dari masjid tua di kompleks pondok. Ada suara jeritan, doa-doa yang dibaca dengan nada terbalik, dan kadang terlihat sosok santri yang berjalan terbalik... di langit-langit.


Merasa curiga, Rafi menyusup ke ruang bawah tanah yang selalu dikunci. Di sana ia menemukan ruangan gelap penuh simbol kuno, tulang manusia, dan sebuah kitab besar bersampul kulit. Di halaman pertama kitab itu tertulis:


“Ilmu Nurul Ghaib: Jalan Menuju Kekekalan Melalui Pengorbanan.”


Kyai Malik ternyata bukan sekadar pemimpin pondok, tapi pemimpin sebuah sekte gelap yang menyamar sebagai ulama. Santri-santri baru yang datang bukan untuk dididik mereka dikorbankan, satu per satu, untuk ritual kuno yang menjaga umur panjang sang kyai dan para pengikut setianya.


Rafi berusaha kabur, tapi pesantren itu seperti hidup tembok bergerak, jalan berubah, dan para santri yang sudah ‘kosong’ mengejarnya seperti boneka tak bernyawa. Ia akhirnya terjebak di ruang kitab, dihadapkan pada pilihan:


Bergabung dalam sekte dan menyerahkan nuraninya… atau menjadi korban berikutnya.


Dan malam itu, seorang santri baru kembali datang ke Al-Mumtaz. Disambut senyum Kyai usman, dan suara lirih dari dalam:

“Selamat datang, santri baru. Jalanmu baru dimulai.”



---Thank you ;) 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayangan di cermin?

Ada apa dengan kakek?

Ada apa dengan kitab Arunika?