Kamar mandi Nomor 3


Di SMP Negeri Tirta Bangsa, ada satu aturan tak tertulis yang selalu disampaikan kakak kelas ke adik kelas setiap tahun ajaran baru:

“Jangan pernah masuk ke kamar mandi putri nomor 3 di lantai 2… terutama saat jam 12 siang.”

Awalnya, Naya, siswi kelas 8, menganggapnya cuma cerita iseng. Sampai suatu hari, saat ia terlambat ke kelas karena perutnya mulas, semua kamar mandi penuh kecuali yang satu itu nomor 3.

Pintu kamar mandi itu tua, kusam, dan sedikit mengelupas. Anehnya, meski sudah siang, lampu di dalamnya menyala sendiri dan hawa di dalam begitu dingin. Tapi karena tak tahan lagi, Naya masuk.

Saat sedang di dalam, ia mendengar bunyi air keran menyala sendiri. Lalu ada ketukan pelan... dari bilik sebelah.

Tok… tok… tok…

“Naya…” suara pelan memanggil, padahal ia yakin tak ada siapa pun.

Ketika ia keluar, dunia terlihat berbeda. Sekolahnya gelap, sunyi, seperti ditinggalkan. Jam di dinding retak, menunjuk angka 00:00. Di lorong, foto-foto kepala sekolah yang biasanya ada, kini kosong hanya bingkai dan bayangan hitam.

Tiba-tiba, ia melihat sosok seorang siswi memakai seragam tahun 90-an, berdiri di depan pintu kamar mandi, tersenyum pucat. Darah menetes dari ujung roknya.

"Kamu sudah masuk," katanya. "Berarti kamu pengganti berikutnya."

Naya mencoba kabur, tapi setiap lorong membawanya kembali ke depan kamar mandi itu. Ia terjebak dalam dimensi kamar mandi gaib, dunia antara hidup dan mati. Di sana, semua korban sebelumnya juga terperangkap, berbisik satu hal:

“Kami semua pernah tidak percaya.”

Keesokan harinya, guru-guru mencari Naya. Ia dinyatakan hilang. Tapi beberapa murid bersumpah, kadang mereka mendengar tangisan dari kamar mandi nomor 3.

Dan saat jam menunjukkan 12 siang tepat, kalau kau berdiri di depan pintu kamar mandi itu dan menyebut nama Naya tiga kali, terkadang… kau akan melihat bayangan wajahnya menatap dari cermin, meminta tolong . 



END-




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayangan di cermin?

Ada apa dengan kakek?

Ada apa dengan kitab Arunika?