Perjanjian ditengah malam


Di sebuah desa terpencil yang dikelilingi hutan lebat, tinggal seorang pemuda bernama Arfan. Ia hidup sederhana, tapi menyimpan ambisi besar: ingin kaya, dihormati, dan tak pernah merasakan kekalahan. Ia muak menjadi orang biasa-biasa saja.


Suatu malam, saat badai mengguncang desanya, Arfan menemukan sebuah buku tua berdebu di gudang peninggalan kakeknya. Buku itu berjudul “Malik al-Zhulumat”, artinya Penguasa Kegelapan. Di dalamnya terdapat simbol-simbol aneh dan mantra yang dipercaya bisa memanggil iblis.


Didorong rasa putus asa dan amarah, Arfan mengikuti ritual di halaman belakang rumahnya, tepat pukul 3 pagi. Ia membaca mantra, membakar dupa, dan menggambar segel darah di tanah. Angin berhenti. Suasana hening mencekam. Lalu... muncullah sosok tinggi berselubung bayangan, bermata merah menyala.


“Namaku Azhaziel. Engkau memanggilku, dan aku datang.”


Iblis itu menawarkan perjanjian: segala yang Arfan inginkan akan diberikan kekayaan, kekuasaan, bahkan cinta asal ia bersedia menyerahkan satu hal di akhir hidupnya: jiwanya.


Tanpa ragu, Arfan menyetujui.


Bulan berganti tahun. Arfan menjadi pengusaha sukses, dipuja, dicintai, tak pernah kalah dalam bisnis atau asmara. Tapi tiap malam, ia selalu melihat sosok Azhaziel berdiri di pojok kamarnya, diam menunggu.


Hingga suatu malam, ketika ulang tahunnya yang ke-33, Azhaziel mendekat dan berkata: “Waktumu telah habis, Arfan. Tapi aku bukan hanya akan mengambil jiwamu. Aku akan menempatkanmu di posisiku. Kau akan menjadi iblis berikutnya.”


Arfan tertawa, mengira itu hanya ancaman. Tapi tubuhnya mulai berubah jiwanya terlepas, digantikan kegelapan. Azhaziel tersenyum.


“Selamat datang, Malik al-Zhulumat yang baru.”


Kini, Arfan tidak mati. Ia hidup... sebagai iblis. Dan setiap malam, dari balik bayangan, ia mencari manusia lain yang cukup serakah untuk membuat perjanjian baru.


--- Terima kasih ---




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayangan di cermin?

Ada apa dengan kakek?

Ada apa dengan kitab Arunika?